Tampilkan postingan dengan label masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masjid. Tampilkan semua postingan

25 Desember 2013

Road To Madinah (Part 6)

Masjid Nabawi

ilahi anta maqsudi (2)
Maka, sejenak mulai mengukur diri, meluruskan niat (lupakan sejenak beli jam tangan, atau kaos kaki). Pantaskah dengan segala yang kita punya, boleh sedikit berbangga hati menjadi tamu Allah SWT? Tausiyah Aa  ketika manasik sedikit membredel hati bahwa kita bukan siapa-siapa, yang bisa jadi belum pantas mendapat undangan mengunjungi baitullah, masih ada orang-orang yang sholih diluar sana, sholatnya khusyuk, amalannya lebih banyak, lebiih taqarub ilallah yang lebih layak kesana, maka jangan sombong…jangan sombong atas sedikit kelebihan yang kita miliki. Bahkan banyak orang-orang yang beribadah umroh berkali-kali tidak makbul, tidak mabrur, karena setelah dari sanapun akhlaqnya tidak berubah, pengetahuannya tidak lebih baik, perspektif dan cinta kepada islam tidak bertambah,  cinta kepada rasulnya tidak bertambah, taqarub ilallahnya tidak meningkat. Bagaimana Allah ridho dengan ibadah kita?
Kelakar yang paling lucu tapi menohok  dari Aa, “yang paling menyakitkan adalah orang yang sombong bisa pergi umroh tapi bukan pake duit sendiri, tapi dibayari sama atasannya, sama bosnya,

21 September 2013

Road To Madinah (Part 5)

 
masjid Nabawi

 ilahi anta maqsudi
Malam, sebelum berangkat itu ayah mengumpulkan kami, anak-anaknya dan memberi tausiyah kecil tentang makna ibadah  yang singkat ini. Betapa ibadah yang nantinya akan kami jalani ini niat utamanya bukan untuk yang lain tetapi hanya lillahi ta’ala, terlepas dari semua permintaan yang mungkin akan kami minta di Madinah atau Mekkah nantinya.  Ada lima perkara ibadah yang kita tuntut.
Satu,  ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi,  bahwa segala muara ibadah yang kita lakukan itu murni hanya untuk Allah SWT, hanya karena Allah SWT  dan hanya mengharapkan ridho Allah SWT.

24 Agustus 2013

Road To Madinah (Part 4)

madinah  masjid nabawi


Renovasi  tak hanya bermain sampai disitu. Raja fadh juga mendatangkan bahan-bahan bangunan dan ornamen-ornamen terbaik untuk menghias masjid nabawi.  Kubah masjid nabawi  dibuat  dari kerangka baja  beton dengan berat masing-masing kubahnya 8o ton. Kubah-kubah ini dilapisi keramik tahan panas di bagian luar dan kayu kering pilihan dari Maroko dengan hiasan relief bertahtakan batu mulia sejenis phyrus didalamnya serta emas yang konon jumlah keseluruhannya  67,5 kg .  Ada 27 buah Kubah  geser  yang dikonstruksikan diatas rel besi yang melingkupi atap,  sengaja didesain sebagai ruang terbuka yang dapat menutup dan membuka secara otomatis untuk mengalirkan udara dan cahaya.

16 Juli 2013

Road to Madinah (part 3)


Nabawi dalam Cahaya


Membayangkannya saja malu. Seberapa cintanyakah kau pada Nabi SAW? Nabi akhir zaman, yang namanya diserukan terpuji, Muhammad  SAW?Sampai merasakan rindu dan ingin bertemu? Bahkan meminta syafaat beliau? Sampai jam 2 pagi waktu Madinah  dan melihat pucuk-pucuk menara terindah dari bis wisata kami itu itu hatiku sama sekali belum tergetar. Hanya

11 Mei 2013

Road to Madinah (Part 1)



masjid nabawi


Kawan sejawatku  pernah berseloroh, apa ada amalan biar cepat dapat ‘panggilan’ ke rumah Allah?  Berarti ngajinya pinter? Sholatnya rajin apalagi sunnahnya  ga luput sehari semalam? Sedekahnya, puasanya ga cukup senin kemis, tapi daud dan tengah bulan dibabat habis? Apa memang seperti itu? Ahh…

09 September 2011

No Fin Ramadhan


Jika saja ia tak pernah berganti dan menjadi dua atau tiga bulan?? mungkin ia menjadi ramadhan spektakuler.....
aku selalu tak rela ia jika pergi terlalu cepat seakan aku akan dibuat semakin uzur dan tua untuk dapat bertemu kembali dengannya...
selalu ada yang hilang di tiap akhir ramadhanku....
melihat jalan-jalan yang semakin lenggang karena sebagiannya memilih tidur di jalan-jalan dalam kendaraan menuju kampung halaman,
mengamati masjid-masjid yang kosong tak beradab karena sebagiannya memilih berkutat di tempat-tempat belanja menimbun logistik menjelang hari raya
jiwaku tak merasa damai melihat diriku sendiri lebih memilih berkotor-kotor menyiapkan pengisi perut.. tapi ini tugas, ini tanggung jawab yang tak terbantahkan....
ada kalanya aku merindukan diriku sendiri berkutat menekuri tilawah panjang sampai mulutku berasa padang pasir..
ada kalanya aku ingin kembali hanya memikirkan diriku sendiri bergerak kesana kemari memaknai tiap keringat yang keluar karena kayuhan sepedaku menyusuri episode kehidupan tiap ramadhan
ada kalanya aku sangat merindukan sujud-sujud panjang di pertiga malam dengan limpahan air mata memohonkan pinta padaNya...
tapi..... episode hidup seperti itu tak selamanya ada, kadang ia harus berganti dengan kesibukan dunia yang sengaja diskenariokan untuk membuatku mengerti kerinduan bersahaja ramadahan seperti itu....
tak ada yang mesti disesali, karena manusia menjalankan perannya masing-masing...
kalaulah jika aku merasa tenang saat ini karena sebiji dzarah azzam yang melekat di kuat jiwaku,
aku akan belajar memaknainya dengan cara yang berbeda, bukan tentang aku sekarang....
aku telah memulainya sekarang..... sekecil apapun yang menjadikannya punya makna
lebih berarti.....
sampai aku merindukannya kembali tiap tahun berharap tidak 30 hari saja, tapi ledakan positif ramadhan itu terasa sampai 365 hari kedepan...