![]() |
| Serabi Kuah cap Kediri |
Sahaja dalam
Semangkok Serabi-Pertholo
Hari itu adalah pagi yang menyenangkan untuk
selayang pandang mengunjungi Pasar Bandar,
Pasar legendaris yang menjadi favoritku
berburu kuliner lokal semenjak kecil
di Kota Kediri yang terletak di pinggir
Kali Brantas. Betapa tidak, ketika melewati
area parkiran dalam pasar, mataku tertumbuk pada gerobak jajanan seorang
pedagang yang menjual jajanan tradisonal kue Serabi dan Pertholo. Ya, serabi dan pertholo, kue
khas jajanan tempo dulu yang makin langka dan jarang ditemui saat ini.
Jajanan yang diolah dari tepung beras itu
memiliki cita rasa gurih, empuk nan legit. Tidak seperti serabi kering yang
familiar seperti serabi solo atau serabi tungku yang banyak dijual di pasar
tradisional, serabi kinca, demikian nama kudapan khas ini tak lagi banyak
peminatnya karena sajiannya yang cukup merepotkan dengan adanya kinca (kuah
manis dari santan dan gula merah). Namun si pejual serabi, seorang lelaki baya
sederhana ini ternyata tak kalah cerdas mampu menyiasati serabi ini dengan
membungkus serabi kinca










